Kemuliaan Seorang Sadio Mane

Kemuliaan Seorang Sadio Mane

Kemuliaan Seorang Sadio ManeDi tengah popularitasnya yang sedang melambung bersama Liverpool, Sadio Mane, terekam kamera sedang membersihkan toilet dan area wudhu masjid di sekitar Merseyside. Gimick dan perilakunya ketika melakukan pekerjaan tersebut terasa menggambarkan kebahagiaan. Pesepak bola 26 tahun itu larut dalam suka cita dan tertawa bersama anak kecil yang berada di dalam toilet tersebut.

Tak banyak figur pesepak bola Muslim yang menunjukkan dirinya sebagai hamba yang taat. Sebagaimana legenda timnas Prancis Zinedine Zidane yang dilekatkan ke agama, meski yang bersangkutan mengaku tidak menjalankan syariat tersebut.

Tetapi, Mane merupakan pribadi yang hangat di atas lapangan pun di luar rumput hijau. Ia selalu menunjukkan kesetiaanya kepada sang pencipta dengan melakukan selebrasi sambil bersujud dan mengerjakan ibadah shalat lima waktu.

Pemain yang memilih nomor punggung 10 tersebut memang dikenal sebagai Muslim taat karena pengaruh ayahnya yang merupakan imam masjid di Bambali, Senegal. Ia bahkan secara tegas menolak mengonsumsi minuman beralkohol yang memang diharamkan oleh agama Islam. Di saat banyak pemain beragama Islam berusaha menyesuaikan diri dengan mengikuti budaya sekuler (Eropa), Mane secara tegas tetap memilih berpegang kepada keyakinannya.

“Saya tidak menyentuh alkohol. Agama merupakan sesuatu yang penting bagi saya. Saya sangat menghormati aturan-aturan Islam dan saya juga selalu shalat lima waktu,” ucap Mane sebagaimana dikutip Daily Mail beberapa waktu lalu.

Kultur Islam begitu mengakar dalam diri Mane. Maklum di samping putra seorang imam masjid, tempat kelahirnnya lebih didominasi oleh masyarakat Muslim. Memilih bergabung dengan kesebelasan Merseydie Merah dinilai tepat. Ini mengingat kota pelabuhan dengan iklim yang hangat dan rekan setim sesama Muslim, Mohamed Salah, membuatnya tidak perlu bersusah payah masuk dalam gaya hidup mewah seperti di pusat Kota London.

Faktor lingkungan dengan tekanan yang lebih kecil setidaknya bisa membuat Mane tetap membumi dan menjadi pribadi yang sama seperti sebelumnya. Meski zaman sudah berubah dan modern, sehingga masjid-masjid membutuhkan pengurusnya.

Namun, membersihkan masjid tentu saja bukan monopoli para pengurus. Selama mempunyai niat yang mantap, siapa pun, punya peluang yang sama seperti apa yang dilakukan Mane untuk mempersiapkan bangunan menuju surga, yakni dengan membersihkan masjid.

Leave a Reply

%d bloggers like this: